Pengertian Istiqamah Lengkap, Cara Agar Selalu di atas Istiqamah, Hingga Keutamaannya
Sering kali kita mendengar kata istiqamah dalam kehidupan sehari-hari, istiqamah sendiri memiliki makna khusus, tegak, konsisten.
Istiqomah adalah kata dalam Bahasa Arab yang merupakan bentuk kata kerja dari kata istaqâma yang berarti “tegak lurus.” Bentuk lain dari kata istaqâma adalah mustaqîm yang
sering diartikan lurus, misalnya dalam kata “ash-shirâtul mustaqîm” yang diartikan dengan “jalan yang lurus.” Dalam KBBI kata istiqamah diartikan dengan sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.
sering diartikan lurus, misalnya dalam kata “ash-shirâtul mustaqîm” yang diartikan dengan “jalan yang lurus.” Dalam KBBI kata istiqamah diartikan dengan sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.
Dari sini bisa dipahami bahwa istiqamah adalah sikap pendirian dan selalu konsekuen, dengan kata lain siap menerima hal apapun walaupun kadang itu tidak menyenangkan.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam kitab Al-qur'annya.
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus (6) (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat; bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat. (7). – (Q.S Al-Fatihah: 6-7)
قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Dia (Allah) berfirman, “Sungguh, telah diperkenankan permohonan kamu berdua, karena itu istiqamahlah kamu berdua pada jalan yang lurus dan jangan kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.” – (Q.S Yunus: 89)
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka istiqamahlah kamu (Muhammad) di jalan yang benar, sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan juga kepada orang yang bertaubat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. – (Q.S Hud: 112)
Adapun hadits tentang istiqamah Rasulullah SAW bersabda :
الحَدِيْثُ الحَادِي وَالعِشْرِيْنَ
عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو، وَقِيْلَ، أَبِيْ عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: “قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu ‘Amr—ada yang menyebut pula Abu ‘Amrah—Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 38]
Penjelasan Hadits
Kalimat “katakanlah suatu perkataan dalam Islam” yaitu dalam syariat Islam.
Kalimat “suatu perkataan yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu”, maksudnya kalimat tersebut sangat berbeda, kalimat tersebut sudah jadi definisi, sifat kalimat tersebut jaami’ dan maani’. Jaami’ dan maani’ artinya memasukkan semua yang tercakup di dalamnya dan mengeluarkan yang tidak tercakup di dalamnya.
Beriman kepada Allah itu terkait dengan amalan hati, sedangkan “kemudian istiqamahlah” berarti istiqamah dalam ketaatan termasuk amalan jawarih (anggota badan).
Selain diartikan sebagaimana di atas istiqamah juga diartikan dengan “konsistensi” atau “keajekan.” Konsisten sendiri bermakna tetap (tidak berubah-ubah), taat asa, ajek, selaras, sesuai.
Contoh Istiqamah dalam Kehidupan Sehari Hari
Ketika kita tidak terbiasa bangun subuh kemudian meniatkan diri untuk berubah dan ingin selalu bangun subuh, maka istiqamah disini berarti kita harus menerima konskuensi untuk menghilangkan rasa malas, siap menahan kantuk. Dan ini harus kita lakukan setiap hari, bukan hanya sekali saja kemudian besoknya tidak dilakukan lagi.
Baca juga : Tata Cara Sholat Tahajud
Keutamaan Istiqamah
Oleh Al-Ustadz Yazid bin ’Abdul-Qadir Jawas حفظه الله Allâh Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ ﴿٣٠﴾ نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا
تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ﴿٣١﴾ نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Rabb kami adalah Allâh,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allâh) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang”. [Fushshilat/41:30-32]. Maksudnya, mereka beriman kepada Allâh Yang Maha Esa kemudian istiqamah di atasnya dan di atas ketaatan hingga Allâh mewafatkan mereka.[1] Tentang ayat di atas, al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, ”Mereka mengikhlaskan amal semata-mata karena Allâh dan melaksanakan ketaatan sesuai dengan syari’at Allâh.”[2] Ayat ini menunjukkan bahwa para malaikat akan turun menuju kepada orang-orang yang istiqamah ketika kematian menjemput, di dalam kubur, dan ketika dibangkitkan. Para malaikat itu memberikan rasa aman dari ketakutan ketika kematian menjemput, menghilangkan kesedihannya dengan sebab berpisah dengan anaknya karena Allâh adalah pengganti dari hal itu, memberikan kabar gembira berupa ampunan dari dosa dan kesalahan, diterimanya amal, dan kabar gembira dengan surga yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.[3] Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat ini: تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ “Maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka,” yakni di saat kematian sambil berkata, أَلَّا تَخَافُوا “janganlah kamu merasa takut,” yaitu dari perkara-perkara akhirat yang akan mereka hadapi, وَلَا تَحْزَنُوا “dan janganlah kamu bersedih hati,” yaitu dari perkara-perkara dunia yang telah kalian tinggalkan, seperti anak-anak, keluarga, harta, agama, karena sesungguhnya Kami akan menggantinya. وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ “Dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu,” lalu mereka diberi kabar gembira dengan hilangnya keburukan dan tercapainya kebaikan. Firman Allâh, نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ “Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat,” yaitu para malaikat berkata kepada orang-orang mukmin ketika kematian, نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ “Kamilah pelindung-pelindungmu”; yakni pendamping-pendamping kalian di dalam kehidupan dunia, kami menunjukkan, mengarahkan, dan melindungi kalian dengan perintah Allâh. Begitu juga kami akan bersama kalian di akhirat, menemani kesendirian kalian di alam kubur, ketika ditiupnya sangkakala, dan mengamankan kalian pada hari kebangkitan dan berkumpulnya manusia, serta membawa kalian melintasi ash-shirâth al-mustaqîm, dan menyampaikan kalian ke surga yang penuh nikmat.
Baca juga : Tata Cara Sholat Witir
Cara Agar Tetap Teguh di atas Istiqamah
Agar tetap teguh di atas istiqamah maka seseorang harus melakukan hal-hal berikut:
1. Taubat nasuha
2. Senantiasa mentauhidkan Allâh dan menjauhkan syirik
3. Selalu berusaha untuk selalu konsekuen dan konsisten dalam ketaatan kepada Allâh danRasul-Nya
4. Muraqabatullâh, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allâh Ta’ala baik dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan
5. Muhasabah, yaitu menginstrospeksi segala amal perbuatan yang telah dikerjakan
6. Mujâhadah, yaitu berjuang sungguh-sungguh menggembleng jiwa di atas ketaatan kepada Allâh Ta’ala
7. Ikhlas dalam beramal dan mutaba’ah (mengikuti contoh Rasûlullâh)
8. Berpegang teguh kepada Sunnah dan menjauhi bid’ah
9. Menjaga shalat lima waktu dengan berjama’ah di masjid
10. Berani dalam melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar
11. Senantiasa menuntut ilmu syar’i
12. Takut kepada Allâh Ta’ala dengan mengingat pedihnya siksa neraka
13. Mencari teman yang shâlih
14. Menjaga hati, lisan, dan anggota badan serta sabar dari hal-hal yang diharamkan
15. Mengetahui langkah-langkah setan
16. Senantiasa berdzikir dan berdo’a agar diteguhkan di atas istiqamah.
Diantara do’a yang sering Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam baca ialah:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.
Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamamu
Demikianlah mengenai Istiqamah, setelah membaca penjelasan ini semoga kita menjadi lebih dekat dengan yang maha kuasa, jika anda membagikan ini maka akan dianggap sedekah jariyah.
Wallahu a'lam
Pengutipan : https://almanhaj.or.id/4134-keutamaan-istiqomah.html

https://kata-h.blogspot.com/2020/07/kata-kata-hikmah-ala-santri-indonesia.html
BalasHapushttp://q.gs/FM7d3